Rekonstruksi Etnosains pada Pembuatan Getuk Gondok Magelang dan Relevansinya terhadap Pembelajaran IPA SMP
DOI:
https://doi.org/10.52436/1.jpti.2216Kata Kunci:
Etnosains, Getuk Gondok, Kearifan Lokal, Kurikulum Merdeka, Pembelajaran IPAAbstrak
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Indonesia masih mengalami kesulitan dalam mengaitkan konsep-konsep sains dengan kehidupan sehari-hari siswa, sehingga proses belajar menjadi abstrak dan kurang bermakna. Salah satu strategi yang bisa diterapkan untuk menangani permasalahan tersebut adalah etnosains, yaitu menggabungkan pengetahuan lokal masyarakat dalam proses pembelajaran sains. Penelitian ini bertujuan untuk mengenali konsep-konsep ilmiah yang terdapat dalam proses pembuatan Getuk Gondok Magelang, merekonstruksi pengetahuan masyarakat ke dalam konsep sains ilmiah, serta menganalisis relevansinya terhadap pembelajaran IPA di SMP sesuai dengan Kurikulum Merdeka. Studi ini menerapkan pendekatan kualitatif melalui desain etnosains. Penelitian dilakukan di rumah produksi Getuk Gondok Hj. Sri Rahayu, Desa Karet, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Informasi didapatkan melalui pengamatan partisipatif, wawancara semi-terstruktur dengan pemilik usaha sebagai informan utama, serta kajian dokumentasi dan literatur ilmiah. Keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi, sedangkan analisis data mencakup reduksi data, penyajian data, rekonstruksi pengetahuan lokal ke dalam konsep sains ilmiah, pemetaan capaian pembelajaran IPA SMP, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini mengungkapkan bahwa setiap langkah dalam proses pembuatan Getuk Gondok, yang mencakup pemilihan singkong, pencucian, pengukusan, penumbukan, pewarnaan, penggilingan, dan penyimpanan, memuat konsep-konsep biologi, kimia, dan fisika yang berkaitan dengan materi IPA untuk siswa SMP kelas VII hingga IX. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Getuk Gondok memiliki potensi sebagai sumber pembelajaran kontekstual yang mendukung penerapan Kurikulum Merdeka melalui pembelajaran yang berbasis kearifan lokal. Penelitian ini berkontribusi dalam memperdalam studi etnosains mengenai makanan tradisional Indonesia serta menawarkan alternatif sumber belajar IPA yang relevan dan bermanfaat.
Unduhan
Referensi
L. P. Humairah, S. Wahyuni, U. Nuha, dan D. Wahyuni, “Pengembangan E-Modul IPA Berbasis Flipbook Digital Untuk Meningkatkan Literasi Sains Siswa,” Sch. J. Pendidik. dan Kebud., vol. 14, no. 1, hal. 26–34, 2022.
R. Alim, Y. S. Mooduto, dan Y. H. Mahmud, “Implementasi Contextual Teaching and Learning (CTL) Berbasis Lingkungan Dalam Pembelajaran IPA di MIM Unggulan Kota Gorontalo,” J. Ilm. Multidisiplin, vol. 5, no. 1, 2026.
L. Hulwah dan A. Suriani, “Pentingnya Pembelajaran Kontekstual dalam Meningkatkan Pemahaman Konsep Sains pada Siswa SD,” J. Arjuna Publ. Ilmu Pendidikan, Bhs. dan Mat., vol. 3, no. 3, hal. 365–373, 2025.
I. G. Ayu, N. Kade, I. W. Suastra, I. Bagus, dan P. Arnyana, “Integrasi Etnopedagogi dalam Pembelajaran IPA untuk Memperkaya Pemahaman Budaya dan Sains,” Edukatif J. Ilmu Pendidik., vol. 6, no. 6, hal. 6507–6518, 2024.
B. P. Putra dan S. Wahyuni, “Integrasi Kearifan Lokal dalam Pembelajaran IPA untuk Meningkatkan Literasi Sains Siswa: Kajian Literatur,” Kalam Cendekia J. Ilm. Kependidikan, vol. 13, no. 2, hal. 1432–1439, 2025.
E. A. Septina, O. L. Widianingrum, dan D. Cahyaningrum, “Korelasi Budaya , Potensi Lokal dan Kearifan Lokal pada Pembelajaran IPA Berbasis Etnosains,” J. ofScience Educ. Res. Innov., vol. 1, no. 1, hal. 25–32, 2025.
H. Mukti, I. W. Suastra, I. Bagus, dan P. Aryana, “Integrasi Etnosains dalam pembelajaran IPA,” JPGI (Jurnal Penelit. Guru Indones., vol. 7, no. 2, hal. 356–362, 2022.
G. Adellestia, D. A. Siwi, N. K. Sari3, Y. Sugiyanto, dan M. D. Elita5, “Ethnosains Dalam Pembelajaran Ipa: Menanamkan Kebhinekaan Global Melalui Kearifan Lokal,” J. Ilm. Pendidik. Dasar, vol. 10, no. 2, hal. 1122–1136, 2025.
Rikizaputra, Festiyed, S. Diliarosta, dan A. Firda4, “Pengetahuan Etnosains Guru Biologi di SMA Negeri Kota Pekanbaru,” J. Nat. Sci. Integr., vol. 4, no. 2, hal. 186–194, 2021.
A. Putri, N. Qomaria, A. Yuniasti, dan R. Wulandari, “Kajian Etnosains pada Ramuan Tradisional Keraton Sumenep dan Kaitannya dengan Pembelajaran IPA SMP,” J. Pendidik. MIPA, vol. 12, no. 1996, hal. 1148–1155, 2022.
K. Hikmawati dan M. Khusniati, “Kajian Etnosains dalam Proses Pembuatan Bubur Sumsum dalam Pembelajaran IPA,” Proceeding Semin. Nas. IPA XII, hal. 150–159, 2022.
H. M. Nurrubi, V. A. Nurfadilah, dan A. Latip, “Kearifan Lokal ‘ Nyaneut ’: Perspektif Etnosains dan Kaitannya dengan Pembelajaran IPA,” J. Pendidik. Univ. Garut, vol. 16, no. 2, hal. 623–635, 2022.
U. D. Pertiwi dan U. Y. R. Firdausi, “Upaya meningkatkan literasi sains melalui pembelajaran berbasis etnosains,” Indones. J. Nat. Sci. Educ., vol. 02, no. 1, hal. 120–124, 2019.
A. Puspasari, I. Susilowat, L. Kurniawati, R. R. Utami, I. Gunawan, dan I. C. Sayekti, “Implementasi Etnosains dalam Pembelajaran IPA di SD Muhammadiyah Alam Surya Mentari Surakarta,” Sci. Educ. J., vol. 3, no. 1, hal. 25–31, 2019, doi: 10.21070/sej.v3i1.2426.
A. M. Romdhani, U. M. Farid, I. Jannah, U. Annuqayah, J. Bukit, dan L. Pp, “Pengaruh Variasi Perendaman Terhadap Kadar Hidrogen Sianida ( HCN ) Pada Keripik Kulit Singkong ( Manihot esculenta ),” vol. 6, no. 1, hal. 11–18, 2025, doi: 10.32939/symbiotic.v6i1.159.
N. F. Iskandar, A. S. Dewi, dan K. I. Listyorini, “Pengaruh lama perendaman dan pengukusan singkong terhadap karakteristik getuk,” J. Sains dan Teknol. Pangan, vol. 10, no. 3, hal. 8418–8428, 2025.
S. Athqiassalma, R. Yulianti, A. Widana, dan D. Nabila, “Perbandingan Kandungan Hidrogen Sianida (Hcn) Antara Singkong Mentah Dan Beras Singkong (Rasi)?: Implikasi Terhadap Keamanan Dan Nilai Gizi Pangan Lokal,” J. Kesehat. tambusai, vol. 6, no. September, hal. 12007–12014, 2025.
M. Iqbal dan A. Lubis, “Uji Teknis Pengecilan Partikel Gula Tebu menggunakan Disk Mill Tipe FFC-15,” J. Keteknikan Pertan., vol. 11, no. 2, hal. 138–152, 2023, doi: 10.19028/jtep.011.2.138-152.
R. Al Kausar, S. Pratama, P. Surya, H. T. Eriantika, dan A. B. Santika, “Penyuluhan zat pewarna alami makanan dan minuman,” jounal public Heal. concerns, vol. 2, no. 3, hal. 174–183, 2022.
O. Susanti, M. K. Al Mujaahid, M. A. Alhadid, dan D. Gasn, “Inovasi Mesin Penghalus Rempah-Rempah Untuk Peningkatan Ekonomi Masyarakat Di Koto Anau Kabupaten Solok,” J. Hilirisasi IPTEKS, vol. 8, no. 1, hal. 64–76, 2025.
A. J. Chastelyna, S. Yasni, dan D. N. Farida, “Pengujian Umur Simpan Getuk Tinggi Protein Citarasa Rempah,” J. Teknol. Pangan dan Ilmu Pertan., vol. 5, no. 1, 2023.
Irwan dan Kamarudin, “Jurnal basicedu. Jurnal Basicedu,” J. Basicedu, vol. 5, no. 5, hal. 3(2), 524–532, 2021, [Daring]. Tersedia pada: https://journal.uii.ac.id/ajie/article/view/971
Rikizaputra, A. Firda, dan M. Elvianasti, “Kajian etnosains tapai ketan hijau,” BIO-Lectura J. Pendidik. Biol., vol. 9, no. 2, hal. 238–247, 2022, [Daring]. Tersedia pada: https://journal.unilak.ac.id/index.php/BL
M. W. Lidi dkk., “Di Kabupaten Ende,” J. Pendidik. Fis., vol. 6, no. 2, hal. 206–216, 2022.
E. M. Silla, M. Dopong, P. J. Teuf, dan H. F. Lipikuni, “Kajian Etnosains pada Makanan Khas Usaku (Tepung Jagung) sebagai Media Belajar Fisika,” J. Literasi Pendidik. Fis., vol. 4, no. 1, hal. 30–39, 2023, doi: 10.30872/jlpf.v4i1.2060.
P. J. Teuf, M. Dopong, G. V. Labeul, dan H. Fridolin, “Implementasi Pembelajaran PBL Berbasis Kearifan Lokal pada Alat Musik Tradisional NTT Materi Gelombang untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMP,” vol. 6, no. 1, hal. 541–546, 2026.









