Kajian Konseptual Integrasi Materi Sistem Hormon dalam Pendidikan Biologi sebagai Upaya Penguatan Empati untuk Pencegahan Kekerasan Seksual pada Mahasiswa
DOI:
https://doi.org/10.52436/1.jpti.2112Abstrak
Kekerasan seksual masih menjadi permasalahan serius di lingkungan perguruan tinggi yang berdampak pada kondisi fisik, psikologis, sosial, dan akademik korban. Rendahnya empati serta masih tingginya perilaku victim blaming menjadi salah satu faktor yang menghambat upaya pencegahan dan penanganan kasus kekerasan seksual. Pendidikan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran sosial dan empati mahasiswa, termasuk melalui pembelajaran biologi yang mengaitkan konsep ilmiah dengan permasalahan sosial. Artikel ini bertujuan mengkaji secara konseptual potensi integrasi materi sistem hormon dalam pendidikan biologi sebagai upaya penguatan empati untuk mendukung pencegahan kekerasan seksual pada mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) yang disusun berdasarkan pedoman PRISMA. Literatur diperoleh dari basis data Google Scholar, ScienceDirect, dan Garuda dengan fokus pada kajian mengenai sistem hormon, respons stres dan trauma, empati, pendidikan biologi, serta kekerasan seksual. Proses pencarian awal menghasilkan 42 artikel, kemudian dilakukan proses penyaringan berdasarkan relevansi topik, tahun publikasi, serta kriteria inklusi sehingga diperoleh 18 artikel yang memenuhi syarat untuk dianalisis lebih lanjut. Hasil kajian menunjukkan bahwa trauma akibat kekerasan seksual dapat mempengaruhi regulasi sistem hormon, khususnya melalui aktivasi sumbu hipotalamus-pituitari-adrenal (Hypothalamic-Pituitary-Adrenal Axis/HPA Axis) yang berperan dalam respons stres. Sintesis terhadap literatur terpilih menunjukkan bahwa sebagian besar studi melaporkan adanya hubungan antara trauma seksual dengan disregulasi hormon stres seperti kortisol dan ACTH, sedangkan beberapa studi pendidikan menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual berbasis isu sosial efektif meningkatkan empati peserta didik. Pemahaman mengenai dampak biologis trauma melalui materi sistem hormon dapat membantu mahasiswa memahami kondisi korban secara lebih komprehensif, meningkatkan kesadaran sosial, serta menumbuhkan empati. Peningkatan empati berpotensi mengurangi perilaku victim blaming dan stigma terhadap korban, sekaligus mendukung terciptanya lingkungan kampus yang lebih aman dan inklusif. Integrasi materi sistem hormon dengan isu kekerasan seksual juga dapat menjadi bentuk pembelajaran kontekstual yang tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep biologis, tetapi juga berkontribusi terhadap pembentukan karakter dan tanggung jawab sosial mahasiswa. Oleh karena itu, materi sistem hormon memiliki potensi untuk diintegrasikan dalam pendidikan biologi sebagai strategi penguatan empati dan pencegahan kekerasan seksual di perguruan tinggi.
Unduhan
Referensi
M. A. Alnim and E. M. W. Rohi, “Pentingnya empati dalam membangun hubungan sosial di lingkungan sekolah,” Edu Sociata (Jurnal Pendidikan Sosiologi), vol. 8, no. 2, pp. 226–233, 2025, doi: 10.33627/es.v8i2.4073.
M. Amin, “Victim blaming dalam perspektif sosial dan hukum,” Jurnal Sosiologi Hukum, vol. 5, no. 2, pp. 120–135, 2020.
M. Ardinata, S. M. Hangabei, and I. Suryani, “Identification of sexual violence cases in higher education: A human rights and academic ethics perspective,” Jurnal Hukum Sehasen, vol. 11, no. 1, pp. 215–220, 2025, doi: 10.37676/jhs.v11i1.8089.
N. F. Ayudhya, R. E. Gumilangsari, and C. N. Rizkia, “Hubungan kecakapan hidup abad 21 dengan psikologi perkembangan peserta didik: studi literatur,” Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan, vol. 5, no. 1, pp. 560–571, 2026, doi: 10.57250/ajpp.v5i1.2139.
I. S. B. Barus and N. U. Ritonga, “Victim blaming sebagai bentuk reviktimisasi sekunder dalam perspektif viktimologi di Indonesia,” Pemuliaan Keadilan, vol. 3, no. 2, pp. 22–31, 2026, doi: 10.62383/pk.v3i2.1603.
A. T. D’Elia et al., “Posttraumatic stress disorder (PTSD) and depression severity in sexually assaulted women: hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis alterations,” BMC Psychiatry, vol. 21, p. 174, 2021, doi: 10.1186/s12888-021-03170-w.
A. Deviana et al., “Analisis dampak kekerasan seksual terhadap perempuan,” Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner, vol. 2, no. 01, pp. 1503–1519, 2025.
A. S. Dirgantara, “Perlindungan hukum terhadap korban kekerasan seksual di ruang digital,” Causa: Jurnal Hukum dan Kewarganegaraan, vol. 6, no. 12, pp. 91–100, 2024, doi: 10.3783/causa.v6i12.6581.
N. Diswantika and Y. R. Yustiana, “Model bimbingan dan konseling bermain cognitive-behavior play therapy untuk mengembangkan empati mahasiswa,” Jurnal Mahasiswa BK An-Nur, vol. 8, no. 1, pp. 40–56, 2022, doi: 10.31602/jmbkan.v8i1.6215.
H. Febri, “Stres no more: strategi efektif mengelola stres di tengah kehidupan digital,” Coram Mundo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, vol. 6, no. 2, pp. 54–71, 2024, doi: 10.55606/corammundo.v6i2.383.
L. Handayani, “Efektivitas program pendidikan karakter dalam manajemen pendidikan untuk mengurangi kasus kekerasan seksual di universitas,” Jurnal Ilmu Manajemen dan Pendidikan, vol. 4, no. 2, pp. 221–230, 2024, doi: 10.30872/jimpian.v4i2.4467.
T. A. A. Harahap and A. Safiq, “Victim blaming dalam kasus kekerasan seksual: telaah viktimologi dan perlindungan korban,” Fatih: Journal of Contemporary Research, vol. 3, no. 1, pp. 261–276, 2026, doi: 10.61253/aemwpa31.
J. Herman, Trauma and Recovery: The Aftermath of Violence—From Domestic Abuse to Political Terror. New York, USA: Basic Books, 2015.
E. A. Hvidt et al., “Empathy as a learning objective in medical education,” BMC Medical Education, vol. 22, p. 628, 2022, doi: 10.1186/s12909-022-03696-x.
S. Kurniawan, Y. Sugiarno, and M. A. Rahman, “Analisis kurikulum biologi berbasis konteks lingkungan pendekatan holistik,” Science Education and Development Journal Archives, vol. 3, no. 1, pp. 27–36, 2025, doi: 10.59923/sendja.v3i1.415.
S. N. A. Maskan et al., “Peran kelenjar hipofisis dan pengaruh neuroendokrin terhadap perilaku manusia,” Journal of The Indonesian Medical Association, vol. 75, no. 5, pp. 256–262, 2025, doi: 10.47830/jinma-vol.75.5-2025-1965.
M. Masriah, I. Triadhari, and F. Rahmawati, “Dampak psikologis pada korban kekerasan seksual di lingkungan kampus,” Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, vol. 6, no. 2, pp. 188–205, 2024, doi: 10.24235/equalita.v6i2.19155.
S. Mas’udah, “The meaning of sexual violence and society stigma against victims of sexual violence,” Society, vol. 10, no. 1, pp. 1–12, 2022, doi: 10.33019/society.v10i1.384.
E. Mendrofa, “Tindakan preventif guru pendidikan agama Kristen dalam mengatasi kekerasan seksual di kalangan pelajar,” REI MAI: Jurnal Ilmu Teologi dan Pendidikan Kristen, vol. 3, no. 2, pp. 207–222, 2025, doi: 10.69748/jrm.v3i2.338.
A. Navira et al., “Penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kampus untuk membangun karakter mahasiswa,” Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, vol. 2, no. 1, pp. 951–959, 2026, doi: 10.63822/2r46v889.
N. K. Nisa et al., “Hubungan antara empati dengan perilaku prososial siswa SMA,” Journal of Society Counseling, vol. 4, no. 1, pp. 48–61, 2026, doi: 10.59388/josc.v4i1.850.
K. U. Noer et al., “Strengthening the role of communities in the prevention of sexual violence in higher education,” in Proc. Borobudur Int. Symp. Humanities and Social Science, 2023, pp. 532–540, doi: 10.2991/978-2-38476-118-0_61.
C. Nursadrina et al., “Pengaruh stres terhadap kesehatan mental dan fisik: tinjauan psikologi klinis,” Journal of Healthcare Technology and Medicine, vol. 11, no. 1, pp. 701–705, 2025, doi: 10.33143/jhtm.v11i1.5288.
A. P. Nursyada et al., “Kurikulum berbasis sosio-saintifik dalam pembelajaran biologi,” Innovative: Journal of Social Science Research, vol. 5, no. 3, pp. 6303–6321, 2025, doi: 10.31004/innovative.v5i3.19734.
C. D. Oktaviani, N. Lestari, and H. Anie, “Perempuan dan stigma hukum dalam kasus pelecehan seksual,” Jurnal Kajian Hukum dan Pendidikan Kewarganegaraan, vol. 2, no. 1, pp. 361–370, 2025.
C. M. Reich, G. A. Pegel, and A. B. Johnson, “Are survivors of sexual assault blamed more than victims of other crimes?,” Journal of Interpersonal Violence, vol. 37, no. 19–20, 2022, doi: 10.1177/08862605211037423.
R. L. E. P. Reniers, A. Abu-Akel, and A. Seara-Cardoso, “Editorial: cognitive empathy and perspective taking,” Frontiers in Psychiatry, vol. 13, p. 945258, 2022, doi: 10.3389/fpsyt.2022.945258.
T. Safitri et al., “Analisis keberhasilan implementasi pembelajaran biologi inklusif,” ORYZA: Jurnal Pendidikan Biologi, vol. 14, no. 2, pp. 218–229, 2025, doi: 10.33627/oz.v14i2.3371.
V. Salwa, F. N. B. Peranginangin, and H. Rochmaniya, “Kekerasan terhadap perempuan: tantangan dan solusi psikologis,” Jurnal Sosial Humaniora, vol. 2, no. 1, pp. 58–80, 2025, doi: 10.70214/4z4j0c29.
C. E. Shenk et al., “Cortisol trajectories measured prospectively across thirty years,” Psychoneuroendocrinology, vol. 136, p. 105606, 2022, doi: 10.1016/j.psyneuen.2021.105606.
J. A. Sheng et al., “The hypothalamic-pituitary-adrenal axis: development, programming actions of hormones,” Frontiers in Behavioral Neuroscience, vol. 14, p. 601939, 2021.
B. S. Shopiani, W. Wilodati, and U. Supriadi, “Fenomena victim blaming pada mahasiswa terhadap korban pelecehan seksual,” Sosietas, vol. 11, no. 1, pp. 13–26, 2021, doi: 10.17509/sosietas.v11i1.36089.
W. Sofia and A. Irma, “Keterampilan mendengarkan aktif dalam meningkatkan empati komunikasi antarpribadi,” Jimmi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Multidisiplin, vol. 3, no. 1, pp. 114–130, 2026, doi: 10.71153/jimmi.v3i1.447.
UNESCO, Safe Learning Environments: Preventing and Addressing Violence in and Around School. Paris, France: UNESCO, 2021.
V. Valia and F. L. Nuqul, “Tantangan dalam menegakkan hukum pada kasus kekerasan seksual,” Journal Psikologi Forensik Indonesia, vol. 4, no. 2, 2024, doi: 10.71088/jpfi.v4i2.67.
S. Wahyuni et al., “Korban dan/atau pelaku: atribusi victim blaming pada korban kekerasan seksual berbasis gender di lingkungan kampus,” Brawijaya Journal of Social Science, vol. 2, no. 1, pp. 1–17, 2022, doi: 10.21776/ub.bjss.2022.002.01.1.
World Health Organization, Violence Against Women Prevalence Estimates, 2018. Geneva, Switzerland: WHO, 2021.
S. Yusran and T. Setiawati, “The existing curriculum and teaching learning challenges for prevention and handling sexual violence in higher education,” Unnes Journal of Public Health, vol. 12, no. 2, pp. 82–93, 2023, doi: 10.15294/ujph.v12i2.65709.









